Bedah Buku: "Sebelas Patriot": Menggelorakan Semangat Nasionalisme dan Pantang Menyerah Mahasiswa Kedokteran Gigi
BIDANG 2 BEM FKG UH
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (BEM FKG Unhas) kembali memperkuat iklim literasi dan ruang diskusi kritis di lingkungan kampus. Pada Kamis malam (20/08/2026), BEM FKG Unhas sukses menggelar agenda Bedah Buku yang membedah salah satu karya populer karya Andrea Hirata, yaitu novel Sebelas Patriot.
Bertempat di Rumana Cafe, kegiatan yang berlangsung hangat sejak pukul 19.00 WITA ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa yang antusias berdiskusi mengenai nilai-nilai kebangsaan, kerja keras, dan peran pemuda bagi bangsa.
Napas Perjuangan dan Simbolisme Sepak Bola Novel Sebelas Patriot mengisahkan perjalanan hidup Ikal yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional demi menunaikan impian sang ayah, yang merupakan seorang pejuang bangsa yang harus merelakan mimpinya terhenti akibat kekejaman kolonialisme.
Dalam diskusi tersebut, para pemantik menyoroti bagaimana Andrea Hirata berhasil menjadikan sepak bola tidak sekadar sebagai cabang olahraga, melainkan simbol persatuan, nasionalisme, dan rasa cinta tanah air. Sepak bola digambarkan sebagai pemersatu bangsa yang mampu membakar semangat juang dan mengajarkan arti pengorbanan serta persahabatan. Kegiatan bedah buku kali ini menghadirkan tiga pemantik diskusi dari unsur kelembagaan dan Keluarga Mahasiswa FKG Unhas:
1. Andika Putra Pratama (Ketua Bidang 1 BEM FKG Unhas)
2.Muhammad Xavier Syafwan Al-Firdaus Putra (Ketua Komisi A Maperwa FKG Unhas)
3. M. Irsalul I'timad (Keluarga Mahasiswa FKG Unhas)
Para pemantik mengajak seluruh peserta untuk melihat relevansi pesan novel ini dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa kedokteran gigi.
"Setiap perjuangan membutuhkan ketangguhan mental dan pengorbanan. Sebagaimana Ikal yang pantang menyerah dalam meraih cita-citanya, kita sebagai mahasiswa kedokteran gigi juga dituntut untuk memiliki semangat patriotisme bukan hanya di atas kertas, melainkan melalui dedikasi belajar, integritas moral, serta kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia," ungkap para narasumber dalam diskusi.
Menghidupkan Budaya Diskusi Inklusif Pemilihan Rumana Cafe sebagai tempat kegiatan memberikan suasana diskusi yang santai namun tetap substantif. Berbagai tanggapan dan pandangan kritis mengalir dari para peserta yang hadir, menciptakan ruang dialektika yang segar bagi Keluarga Mahasiswa (KM) FKG Unhas.
Melalui kegiatan ini, BEM FKG Unhas berharap semangat pantang menyerah dan nasionalisme yang diusung dalam novel Sebelas Patriot dapat terus menginspirasi mahasiswa untuk berkarya dan memberikan kontribusi terbaik bagi almamater serta bangsa Indonesia. Kegiatan bedah buku ditutup dengan foto bersama dan komitmen untuk terus menghidupkan tradisi literasi di FKG Unhas
DIUNGGAH PADA 27 AGUSTUS 2026
EDISI AGUSTUS 2026
Dokter Muda Di Garis Depan : Antara Tanggung Jawab, Risiko, dan Perlindungan
BEM FKG UNHAS
Dokter Muda Di Garis Depan : Antara Tanggung Jawab, Risiko, dan Perlindungan
Dalam rentang Februari hingga Juli 2026, Indonesia dikejutkan dengan meninggalnya enam dokter yang sedang menjalani Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) di berbagai daerah. Setiap kasus memiliki penyebab yang berbeda, mulai dari penyakit infeksi, kondisi medis, hingga kasus yang masih dalam proses investigasi. Meskipun penyebabnya tidak sama dan tidak dapat disimpulkan sebagai akibat langsung dari sistem internship, rangkaian peristiwa tersebut menimbulkan perhatian luas terhadap aspek perlindungan dokter muda selama menjalankan masa internship.
Program Internship Dokter Indonesia merupakan tahapan wajib yang harus ditempuh oleh setiap dokter setelah menyelesaikan pendidikan profesi sebelum memperoleh kewenangan praktik secara mandiri. Program ini bertujuan untuk memantapkan kompetensi klinis, profesionalisme, komunikasi, serta kemampuan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam pelaksanaannya, peserta ditempatkan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas, dengan kondisi geografis, fasilitas, dan beban pelayanan yang berbeda-beda.
Di balik tujuan tersebut, dokter internship menghadapi berbagai tantangan yang tidak dapat diabaikan. Beban kerja yang tinggi, keterbatasan sarana dan prasarana di beberapa daerah, risiko paparan penyakit menular, tekanan psikologis, hingga risiko keselamatan selama menjalankan tugas menjadi bagian dari realitas yang dihadapi peserta internship. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pencapaian kompetensi, tetapi juga pada adanya sistem perlindungan yang mampu menjamin keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan dokter muda.
Dalam konteks tersebut, organisasi profesi memiliki peran yang sangat penting. Sebagai organisasi profesi dokter di Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memiliki fungsi dalam pembinaan profesi, penegakan etika kedokteran, advokasi, serta perlindungan terhadap anggotanya. Ketika muncul persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan profesi, termasuk dalam program internship, organisasi profesi diharapkan mampu menjadi wadah yang menyampaikan aspirasi, memberikan pendampingan, serta mendorong perbaikan sistem demi terciptanya lingkungan kerja yang aman bagi dokter.
Di sisi lain, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) juga memiliki fungsi yang serupa bagi profesi dokter gigi, yaitu membina kompetensi, menjaga etika profesi, memberikan perlindungan kepada anggota, serta menyampaikan rekomendasi terhadap kebijakan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Meskipun kajian ini berfokus pada dokter internship, peran PDGI tetap relevan sebagai gambaran mengenai pentingnya organisasi profesi dalam menjaga kualitas pelayanan sekaligus melindungi tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas profesinya.
Hak tenaga medis untuk memperoleh perlindungan telah dijamin dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengatur bahwa tenaga medis berhak memperoleh perlindungan hukum, keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan kerja yang aman, serta kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya. Selain itu, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menjadi dasar penyelenggaraan praktik kedokteran yang profesional dan bertanggung jawab. Dalam pelaksanaannya, organisasi profesi memiliki peran strategis untuk mengawal implementasi hak-hak tersebut melalui pembinaan, advokasi, serta pemberian rekomendasi kepada para pemangku kepentingan.
Kasus meninggalnya enam dokter internship menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap sistem perlindungan dokter muda. Evaluasi tersebut tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh sistem internship, melainkan sebagai upaya melihat sejauh mana perlindungan profesi telah berjalan dan bagaimana organisasi profesi dapat memperkuat fungsi pembinaan, advokasi, serta perlindungan bagi dokter yang sedang menjalankan masa internship. Dengan demikian, tujuan program internship sebagai proses pemantapan kompetensi dapat tetap tercapai tanpa mengabaikan hak peserta atas keselamatan, kesehatan, dan perlindungan profesi.
Kronologi Singkat Enam Kasus Dokter Internship (Februari – Juli 2026) Dalam kurun Februari hingga Juli 2026, enam dokter internship dilaporkan meninggal dunia dengan penyebab yang berbeda-beda. Kasus pertama adalah dr. Kartika Ayu Permatasari di Rembang, Jawa Tengah, yang meninggal akibat komplikasi infeksi campak pada 25 Februari2026. Kasus kedua adalah dr. Edgar Bezaliel Hartanto di Denpasar, Bali, yang meninggal karena kondisi medis pada Maret 2026. Kasus ketiga menimpa dr. Andito Mohammad Wibisono di Cianjur, Jawa Barat, yang juga meninggal pada Maret 2026 akibat kondisi medis. Kasus keempat adalah dr. Myta Aprilia Azmy di Kuala Tungkal, Jambi, yang meninggal akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan komplikasi syok pada Mei 2026. Kasus kelima terjadi pada dr. M. Zulfikar Drakel di Kota Metro, Lampung, yang ditemukan meninggal dunia pada 21 Juli 2026 dan masih dalam proses penyelidikan. Kasus keenam adalah dr. Siti Zahra Maghfira, dokter internship asal Universitas Hasanuddin yang bertugas di RS Sentra Medika Cisalak, yang meninggal pada 26 Juli 2026 dan masih dalam proses investigasi. Meskipun penyebab setiap kasus berbeda, rangkaian kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya evaluasi terhadap sistem perlindungan dokter muda, mulai dari skrining Kesehatan. supervisi, kesehatan mental, keselamatan kerja, hingga mekanisme mitigasi risiko selama menjalankan penugasan.
Referensi
1. https://www.liputan6.com/news/read/8256514/infografis-6-dokter-internship-yang-meninggal-sejak-februari-2026?
2. https://tirto.id/daftar-kasus-dokter-koas-hingga-dokter-internship-meninggal-tahun-2026-hAaj
3. https://mediaindonesia.com/humaniora/874918/kronologi-dokter-internsip-meninggal-
versikemenkes?
4. https://www.antaranews.com/berita/5667367/kemenkes-investigasi-wafatnya-peserta-internsip-dr-siti-zahra?meninggal-sejak-februari-2026?
DIUNGGAH PADA 27 AGUSTUS 2026
EDISI AGUSTUS 2026
BEM FKG UNHAS
PERLUKAH BEM-U??
Universitas Hasanuddin, kampus kita yang tercinta dengan segudang prestasi baik akademik dan non akademik, salah satu kampus top di Indonesia Timur bahkan Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama di lingkup Perguruan Tinggi se Indonesia Timur ada di kampus ini. Sebagai mahasiswa, menjadi pertanyaan yang diam di kepala, apakah kita diam saja ketika kampus yang harusnya menjadi tempat menuntut ilmu sekarang menjadi tempat pemerintah menjalankan program kerja nya? apkah kita yang katanya sebagai pengontrol kebijakan sekarang menjadi pelaksana kebijakan pemerintah?.
Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi serta literatur sosiologi pendidikan (Edward Said, "Representation of the Intellectual"), perguruan tinggi dirancang sebagai institusi yang independen dari kepentingan politik praktis maupun program pragmatis pemerintah. Ketika kampus dijadikan pelaksana teknis (executing agency) dari program politik strategis pemerintah, batas antara independensi akademis dan instrumentalisasi politik menjadi kabur. Kampus berisiko kehilangan fungsinya sebagai lembaga pengkritik kebijakan (check and balances) karena adanya
relasi ketergantungan operasional dengan pemerintah.
Keheningan di Tamalanrea maupun Gowa sampai hari ini bukan penanda bahwa naluri kritis mahasiswa telah padam, melainkan cermin dari terputusnya jembatan konsolidasi akar rumput. Semua mahasiswa pasti resah atas segala macam kebijakan aneh yang di buat oleh birokrat. Namun, gelombang resah itu tertahan menjadi riak-riak kecil yang terisolasi di tiap lorong fakultas. Tanpa adanya poros pengikat yang memegang legitimasi kolektif di tingkat tertinggi kemahasiswaan, gagasan kritis tidak pernah menemukan muaranya untuk menjelma menjadi sikap yang solid. Kondisi inilah yang menegaskan betapa rapuhnya posisi mahasiswa ketika tidak ada wadah di tingkat universitas yang mampu menjawab persoalan tersebut. Keberadaan wadah tingkat universitas menjadi penting bukan demi menjaga nostalgia birokrasi semata, melainkan untuk menyediakan panggung konsolidasi inklusif, memproduksi narasi tandingan yang berbasis data, serta memastikan fungsi pengawas kebijakan tidak tergerus oleh kepentingan politik luar. Tanpa adanya simpul gerakan di tingkat universitas yang berani berdiri tegak, kampus akan terus bergeser dari ruang pencarian kebenaran akademis menjadi dapur operasional kekuasaan, dan suara kritis mahasiswa akan tetap terkunci rapat di dalam kepala masing-masing.
Kenapa Wadah di Tingkat Fakultas Saja Tidak Cukup
BEM Fakultas, sekuat apa pun militansinya, punya keterbatasan struktural yang jujur harus diakui: dia beroperasi di dalam field kekuasaan yang sama dengan birokrasi yang justru harus diadvokasi. Bourdieu menyebut ini soal field , modal sosial yang dibangun BEM Fakultas tidak otomatis bisa dikonversi jadi daya tekan di lapangan kekuasaan yang lebih tinggi, apalagi kalau musuh yang dihadapi ada di dalam field yang sama. (Bourdieu, P, 1986). Dalam kacamata Bourdieu, pergerakan yang sporadis dan terpisah tidak akan mampu mengubah habitus birokrasi. Usaha pergerakan yang terorganisir, tersistematis, masif, dan berdampak jangka panjang hanya bisa lahir melalui Gerakan Intelektual Kolektif. Pembentukan kembali LEMA-UH (BEM-U/BPM-U) adalah bentuk cara berpikir relasional untuk merespons struktur objektif Unhas hari ini, sehingga modal sosial dan intelektual mahasiswa tidak habis terbuang dalam pertempuran-pertempuran kecil di tingkat fakultas. Ketika advokasi hanya bertumpu pada BEM Fakultas yang jumlah massanya terbatas dan berada dalam pengawasan langsung birokrasi fakultas yang sama, tekanan balik terhadap mahasiswa yang bersuara menjadi lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, dukungan dari lembaga tingkat universitas yang melibatkan massa lintas fakultas memberikan perlindungan kolektif yang lebih besar dan mempersulit upaya pembungkaman sepihak oleh pihak fakultas manapun.
Belum lagi soal ruang tertutup pendidikan klinik yang penuh pengawasan. Foucault menjelaskan bagaimana ruang sosial yang hierarkis dan tertutup memproduksi self-censorship, yaitu korban dan saksi menahan diri bukan karena tidak berani secara personal, tapi karena mereka tahu persis: siapa pun yang bersuara berisiko kena "pembalasan" lewat jalur yang sulit dibuktikan, baik nilai ditahan, akses kasus dalam klinik dipersulit, rekomendasi profesi atau semua yg menyangkut perizinan ditahan. Semua serba implisit, semua serba "tidak bisa dibuktikan secara formal", tapi semua orang tahu itu nyata.
Wadah Tingkat Universitas?
Beberapa tahun terakhir, sudah berapa kali muncul wadah advokasi dadakan setiap kali ada kasus mencuat? Ramai di awal, viral sebentar, lalu menghilang begitu tekanan publik mereda. Bukan kebetulan, ini pola yang berulang karena wadah ad hoc semacam ini tidak punya legitimasi formaldan tidak punya mekanisme pewarisan pengetahuan ke angkatan berikutnya. Begitu wadah itu bubar, semua yang sudah susah payah dibangun ikut hilang. Kasus serupa bisa saja terulang di periode berikutnya, tapi mahasiswa harus mulai dari nol lagi karena tidak ada institutional memory yang tersisa. Sementara itu, pihak birokrasi yang bermasalah tetap di posisinya, tenang-tenang saja, karena tahu tekanan mahasiswa tidak akan bertahan lama. Selama gerakan mahasiswa terus bergantung pada aliansi-aliansi pemadam kebakaran yang hilang diterpa angin perubahan semester, selama itu pula birokrasi dan senioritas yang kabur batasnya akan tersenyum menang. Mereka tidak perlu repot-repot berbenah, mereka hanya perlu menunggu kita jenuh, amnesia, lalu sarjana satu per satu.
Pengalaman kita dengan wadah insidental seperti Aliansi Unhas Bersatu (AUB) atau Serikat Unhas telah membuktikan batas kegagalan gerakan ad-hoc ini. Ketika terjadi kebuntuan pergerakan, aliansi temporer ini rentan terpecah menjadi dua poros, memicu pergesekan internal, kehilangan massa aksi karena ketidakjelasan alur dan tanggung jawab, hingga akhirnya kembali mengembalikan muatan masalah ke BEM Fakultas masing-masing tanpa solusi jangka panjang. Ini adalah siklus fragmentasi yang terus berulang.
Kembali terlintas di benak apakah kita masih melanjutkan pola seperti ini ke generasi yang akan datang, baik adik bahkan anak atau cucu yang akan berkuliah di kampus tercinta ini?
Wadah tingkat universitas yang terus diperbincangkan oleh kawan-kawan mahasiswa tidak lain adalah BEM Universitas (BEM-U), sebuah lembaga yang telah mengalami vakum dan kehilangan fungsinya selama beberapa tahun terakhir. Vakumnya BEM-U memang meninggalkan sejarah yang tidak bisa diabaikan. Kehilangan poros utama di tingkat universitas menciptakan trauma mahasiswa menjadi ragu apakah menghidupkan kembali struktur ini benar-benar akan membawa perubahan, atau justru hanya mengulang kesalahan masa lalu.
Satu ketakutan terbesar yang membayangi benak mahasiswa hari ini adalah “bagaimana jika BEM-U yang terbentuk nantinya justru disetir oleh birokrat dan menjadi alat legitimasi kebijakan kampus?”. Kekhawatiran ini sama sekali tidak salah. Rekam jejak sejarah gerakan mahasiswa di berbagai tempat menunjukkan betapa rentannya wadah tingkat universitas dikooptasi oleh
kekuasaan, diberi fasilitas, diusap kepalanya, lalu dijinakkan nalar kritisnya.
Namun, membiarkan posisi tingkat universitas tetap kosong karena takut disetir birokrasi adalah sebuah kekeliruan fatal. Mengapa? Sebab tanpa adanya wadah resmi di tingkat universitas, birokrasi justru jauh lebih mudah mengendalikan dan memecah belah mahasiswa di tingkat fakultas secara terpisah. Birokrasi tidak perlu repot-repot menyetir BEM-U jika mahasiswa sendiri yang memilih untuk tidak memiliki panggung tawar yang sejajar di tingkat Rektorat. Kuncinya bukan menolak kehadiran BEM-U, melainkan merancang desain konstitusi dan mekanisme kontrol internal yang independen sejak awal. Jaminan independensi ini sejatinya telah diamanatkan dalam Konstitusi KM-UH (2019), di mana BEM-UH dibentuk sebagai lembaga eksekutif yang berdaulat di tangan mahasiswa dan bebas dari dikte Rektorat. Ketakutan akan kooptasi birokrasi juga dapat dikunci melalui Surat Pernyataan Kesepakatan Lembaga Fakultasbersama Birokrasi Kampus yang secara tegas menyatakan: (1) Birokrasi tidak boleh mengintervensi atau melarang aktivitas BEM-U selama sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi; (2) Tidak ada campur tangan birokrasi yang menghambat proses pengaderan dan kepengurusan; serta (3) Setiap kebijakan kemahasiswaan strategis yang mengatasnamakan Unhas wajib melibatkan LEMA-UH. BEM-U yang ideal tidak boleh lahir dari kompromi elit atau desain birokrasi kampus. Ia harus lahir murni dari mandat kesepakatan Lembaga Fakultas se-Unhas sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Dengan mekanisme check and balances yang ketat dari jaringan BEM Fakultas, BEM-U tidak akan bisa melangkah sendiri, apalagi menjadi boneka rektorat. Kelak menjadi sebuah wadah yang memastikan bahwa ketika birokrasi mencoba menekan satu mahasiswa atau satu fakultas, seluruh elemen mahasiswa di Unhas akan berdiri memberikan perlawanan kolektif.
Sebagai PTN-BH dengan otonomi manajerial dan komersial yang luas, Unhas berada dalam kerentanan terseret ke arah komersialisasi pendidikan, di mana tanpa adanya instrumen pengawas independen di tingkat Rektorat, kebijakan finansial mulai dari penetapan UKT, biaya pendidikan profesi, hingga alokasi anggaran kemahasiswaan berisiko dikelola secara sepihak oleh birokrasi, sehingga BEM-U sangat dibutuhkan sebagai watchdog untuk memastikan arah pengembangan kampus tidak mengorbankan hak-hak dasar mahasiswa. Selain itu, kehadiran BEM-U berperan penting dalam memecah sekat ego antar-fakultas sekaligus mengembalikan posisi Unhas sebagai poros diplomasi gerakan mahasiswa di tingkat nasional yang membawa gagasan kritis dari Indonesia Timur ke panggung kebijakan publik yang lebih luas. Lebih jauh lagi, BEM-U menyediakan infrastruktur kolaborasi yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu dengan memadukan perspektif rumpun kesehatan, sains-teknologi, dan soshum, sehingga gerakanmahasiswa tidak berhenti pada retorika jalanan melainkan mampu memproduksi riset tandingan, kajian multidisiplin, serta aksi pengabdian masyarakat yang berbasis data (evidence-based advocacy).
Pernyataan Sikap :
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (BEM FKG UH) mendukung penuh pembentukan lembaga mahasiswa di tingkat universitas sebagai pengawas kebijakan kampus serta pelindung kolektif mahasiswa dari intimidasi birokrat dan wadah aspirasi bagi mahasiswa Universitas Hasanuddin
DIUNGGAH PADA 7 AGUSTUS 2026
EDISI AGUSTUS 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada tanggal 24-25 Juli 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (BEM FKG Unhas) melalui Departemen Penalaran dan Pengembangan menyelenggarakan 9th Hasanuddin Dentistry Scientific Competition (HDSC) sebagai ajang kompetisi ilmiah bagi mahasiswa kedokteran gigi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan budaya akademik, meningkatkan daya saing ilmiah mahasiswa, serta mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang kedokteran gigi.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, acing. 9th HDSC mempertandingkan empat cabang lomba ilmiah, yaitu Essay Oral Competition, Literature Review, Dental Carving, dan Scientific Poster, yang diikuti oleh mahasiswa kedokteran gigi dari berbagai universitas baik dalam negeri maupun luar negeri, antara lain Universitas Universitas Muslim Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Mega Buana Palopo, dan Ziauddin University asal pakistan . Seluruh cabang lomba dirancang untuk mengasah kemampuan penalaran ilmiah, analisis berbasis evidensi, kreativitas akademik, serta keterampilan teknis peserta. Selain itu, HDSC tahun ini juga dirangkaikan dengan kegiatan Asia Pacific Regional Summit (APRS) dan juga International Dental Summer Course (IDSC).
Setelah rangkaian perlombaan, kegiatan dilanjutkan dengan agenda kebersamaan berupa sunset sailing menggunakan kapal phinisi pada hari pertama bersama dengan peserta APRS dan IDSC. Selain itu, juga dilakukan city tour ke Leang-leang pada hari kedua serta gala dinner dan awarding night yang turut dihadiri oleh peserta APRS dan IDSC. Rangkaian kegiatan ini menjadi sarana penguatan jejaring, silaturahmi, serta kolaborasi akademik antar peserta dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara.
DIUNGGAH PADA 31 JULI 2026
EDISI JULI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
MAKASSAR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas) melalui program TW Dental Library sukses menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku yang bertajuk "The Power of Ambition". Kegiatan yang dinantikan oleh Keluarga Mahasiswa (KM) FKG Unhas ini berlangsung secara interaktif pada Kamis, 23 Juli 2026, yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.
The Power of Ambition karya Yanuar Arifin merupakan buku pengembangan karakter yang mengajak pembaca untuk melihat ambisi sebagai energi positif yang mendorong seseorang mencapai tujuan hidupnya. Melalui pembahasan yang inspiratif, buku ini menekankan bahwa kesuksesan lahir dari keberanian bermimpi, kemauan untuk terus belajar, serta kegigihan dalam menghadapi berbagai tantangan. Penulis juga mengingatkan bahwa ambisi yang sehat perlu diimbangi dengan nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, dan kerja keras agar menghasilkan pencapaian yang bermakna. Dengan penyampaian yang ringan dan penuh motivasi, buku ini menjadi bacaan yang relevan bagi generasi muda untuk membangun pola pikir yang optimis, mengembangkan potensi diri, dan berani mewujudkan impian mereka.
Untuk membedah secara mendalam isi dan esensi dari buku tersebut, TW Dental Library menghadirkan dua pemateri yang merupakan tokoh fungsionaris lembaga kemahasiswaan di internal FKG Unhas, yaitu:
Dinah Anggun Afrini (Wakil Bendahara Umum BEM FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Siti Nurfaradiba Burhan (Bendahara Maperwa FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Diskusi yang berjalan hangat ini dipandu secara apik oleh Wa Ode Zhafyrah Said (Anggota KM FKG Unhas) selaku Moderator, yang berhasil menghidupkan suasana tanya jawab serta mengalirkan pemikiran-pemikiran kritis dari para peserta yang hadir.
Melalui kegiatan bedah buku ini, TW Dental Library berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk terus mengembangkan pola pikir yang berorientasi pada pertumbuhan dan pencapaian tujuan. Nilai-nilai yang terkandung dalam The Power of Ambition diharapkan dapat mendorong Keluarga Mahasiswa FKG Unhas untuk berani bermimpi besar, terus mengasah potensi diri, serta menghadapi setiap tantangan dengan semangat, kerja keras, dan integritas. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pribadi yang inspiratif, berprestasi, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat maupun dunia profesional.
DIUNGGAH PADA 31 JULI 2026
EDISI JULI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada hari Senin, 20 Juli 2026, BEM FKG Universitas Hasanuddin sukses menyelenggarakan Kajian Rutin Islam. Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, yaitu "Perpecahan Umat di Tengah Krisis Sosial-Ekonomi dan Politik: Membangun Ukhuwah Islamiyah sebagai Jalan Islah Bangsa." Intisari dari kajian ini membahas pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah dan sikap wasathiyah sebagai landasan memperkuat persatuan di tengah berbagai perbedaan dan konflik sosial. Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa mahasiswa harus mampu menjadi agen perdamaian dengan mengedepankan dialog, toleransi, dan sikap saling menghormati tanpa mengorbankan prinsip akidah. Peserta diajak untuk menyadari bahwa menjaga persatuan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Dengan memahami nilai-nilai ukhuwah dan islah, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi menciptakan lingkungan yang damai, rukun, dan penuh semangat persaudaraan.
DIUNGGAH PADA 31 JULI 2026
EDISI JULI 2026
Penulis: Siti Nurfaradiba Burhan-Bendahara Umum BEM FKG UH
Mahasiswa merupakan bagian penting dalam perjalanan perubahan bangsa. Tidak hanya sebagai individu yang menempuh pendidikan tinggi, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai kelompok intelektual muda yang mampu memberikan gagasan, kritik, dan solusi terhadap berbagai persoalan sosial. Sejarah Indonesia mencatat bahwa gerakan mahasiswa memiliki kontribusi besar dalam mendorong perubahan, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga era reformasi. Namun, di era modern, gerakan mahasiswa tidak hanya dipahami sebagai aksi demonstrasi, melainkan sebagai gerakan intelektual yang mampu menciptakan inovasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Gerakan mahasiswa harus dimulai dari kemampuan untuk menginspirasi. Mahasiswa memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan dan ruang akademik yang memungkinkan mereka melihat permasalahan secara kritis dan objektif. Melalui pemikiran yang konstruktif, mahasiswa dapat menjadi penggerak perubahan dengan menghadirkan ide-ide baru dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, teknologi, ekonomi, dan sosial. Peran mahasiswa sebagai agent of change menuntut mereka untuk tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga menawarkan alternatif penyelesaian yang berdasarkan kajian dan pengetahuan.
Selain memberikan inspirasi, mahasiswa juga perlu menerjemahkan gagasan menjadi karya nyata. Karya mahasiswa dapat diwujudkan melalui penelitian, inovasi teknologi, kegiatan kewirausahaan, pengabdian masyarakat, maupun berbagai aktivitas kreatif lainnya. Perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi mahasiswa untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan menghasilkan karya yang bermanfaat, mahasiswa tidak hanya meningkatkan kapasitas dirinya, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat dan bangsa.
Gerakan mahasiswa yang ideal adalah gerakan yang mampu memberikan dampak berkelanjutan. Mahasiswa memiliki peran sebagai social control yang mengawasi berbagai persoalan sosial serta mendorong terciptanya kebijakan yang lebih baik. Namun, fungsi kontrol tersebut harus dilakukan dengan cara yang kritis, rasional, dan solutif. Gerakan mahasiswa yang berdampak bukan hanya tentang menyuarakan perubahan, tetapi juga terlibat langsung dalam menciptakan perubahan melalui aksi nyata, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, gerakan mahasiswa merupakan proses untuk membangun generasi yang memiliki kepedulian, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton dalam perubahan zaman, tetapi harus menjadi aktor utama yang menghadirkan kemajuan. Dengan semangat menginspirasi melalui gagasan, berkarya melalui inovasi, dan berdampak melalui kontribusi nyata, mahasiswa dapat menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih maju, adil, dan berkelanjutan.
Referensi
Akbar, I. (2016). Demokrasi dan gerakan sosial (Bagaimana gerakan mahasiswa terhadap dinamika perubahan sosial). Jurnal Wacana Politik, 1(2), 107–115. https://doi.org/10.24198/jwp.v1i2.11052
Hafizd, J. Z. (2022). Implementasi peran mahasiswa sebagai agent of change melalui karya tulis ilmiah. Dimasejati: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2).https://doi.org/10.70095/dimasejati.v4i2.12036
Setyadi, Y. D., Wulandari, D., Lestari, L. D., Meliasari, W. O., & Sari, I. N. (2021). Peran mahasiswa Kampus Mengajar 2 sebagai agent of change dan social control. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(6), 1542–1547. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v5i6.8592
Syaiful, A. (2023). Peran mahasiswa sebagai agen perubahan di masyarakat. Journal of Instructional and Development Researches, 3(1), 29–34. https://doi.org/10.53621/jider.v3i1.102
Putri, A. R., & Nugroho, R. (2022). Peran mahasiswa dalam pembangunan sosial melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia, 2(4), 465–472.
DIUNGGAH PADA 31 JULI 2026
EDISI JULI 2026
Penulis: Dinah Anggun Afrini - Wakil Bendahara Umum BEM FKG UH
Sejarah Indonesia tidak pernah benar-benar terpisah dari peran mahasiswa. Dari masa pergerakan nasional, reformasi, hingga era transformasi digital saat ini, mahasiswa selalu hadir sebagai kelompok yang membawa gagasan, mengkritisi arah kebijakan, sekaligus menawarkan solusi. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas persoalan bangsa, peran mahasiswa mengalami pergeseran mulai dari sekadar “penyampai aspirasi” menjadi penggerak perubahan berbasis pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata. “Nalar yang bersuara” bukan sekadar kemampuan berbicara lantang, tetapi keberanian menggunakan akal, data, etika, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik. Mahasiswa menjadi kelompok strategis karena memiliki akses terhadap pendidikan, ruang intelektual, dan jejaring sosial yang memungkinkan untuk mengawal masa depan negeri secara lebih substansial.
Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change, tetapi istilah tersebut akan kehilangan makna jika berhenti pada slogan. Di era sekarang, perubahan tidak lagi hanya dilakukan melalui demonstrasi atau pernyataan sikap, melainkan juga melalui produksi gagasan, inovasi sosial, penelitian, advokasi kebijakan, dan gerakan berbasis komunitas. Salah satu tantangan terbesar generasi mahasiswa saat ini adalah banjir informasi. Kemajuan teknologi mempercepat akses pengetahuan, tetapi juga memperbesar risiko disinformasi, polarisasi, dan partisipasi yang bersifat reaktif. Karena itu, mahasiswa perlu menempatkan nalar sebagai fondasi gerakan. Nalar berarti kemampuan membaca konteks, mengevaluasi informasi, memahami dampak kebijakan, serta membangun argumentasi berbasis fakta.
Mahasiswa bukan sekadar kelompok yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Mahasiswa adalah penjaga arah, penguji kebijakan, dan pencipta kemungkinan baru bagi bangsa. Ketika nalar digunakan untuk memahami realitas dan suara digunakan untuk memperjuangkan perubahan, mahasiswa tidak hanya menjadi saksi sejarah tetapi menjadi penulisnya. Masa depan negeri tidak menunggu siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling konsisten menyuarakan nalar dan mewujudkannya dalam tindakan.
REFERENSI:
Malnes, H. A., & Najicha, F. U. (2024). Peran Media Sosial dalam
Mencapai Civic Participation pada Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 8(1), 223–235. DOI: 10.31571/jpkn.v8i1.6051
Inayah, D., & Amalia, G. (2026). Implementasi Serta Peran Aktif Mahasiswa dalam Memperkuat Ketahanan Nasional dan Bela Negara. Civic Edu: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan. DOI: 10.23969/civicedu.v7i1.26863
Gumilar, A. T., dkk. (2025). Revitalisasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum Berbasis Proyek: Upaya Meningkatkan Civic Engagement dan Karakter Kewargaan. Jurnal Moral Kemasyarakatan. DOI: 10.21067/jmk.v10i2.12137
DIUNGGAH PADA 1 JULI 2026
EDISI JULI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Innovation of Scientific Writing and Thought (INSIGHT) 2026 merupakan rangkaian seminar dan workshop yang dirancang sebagai wadah pengembangan diri bagi Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun karya tulis ilmiah yang sesuai dengan standar akademik, sekaligus mendorong tumbuhnya kreativitas dan kemampuan berpikir logis serta kritis.
Melalui pendekatan edukatif dan aplikatif, INSIGHT 2026 menghadirkan sesi seminar interaktif, workshop penyusunan abstrak literature review, serta sesi presentasi hasil workshop di mana setiap kelompok berkesempatan untuk memaparkan abstrak yang telah mereka susun di depan forum. Diharapkan, pemahaman dan keterampilan menulis ilmiah yang diperoleh dari kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam berbagai kompetisi ilmiah serta menghasilkan karya tulis yang berkualitas.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 bertempat di Ruang Molar FKG Unhas dengan penuh semangat dan antusiasme dalam berkarya ilmiah.
DIUNGGAH PADA 1 JULI 2026
EDISI JULI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Pada Senin, 22 Juni 2026, telah dilaksanakan kegiatan Readers Week sebagai wadah bagi para peminjam buku untuk membagikan pandangan, pemahaman, serta pesan yang diperoleh dari buku yang telah dibaca selama satu bulan terakhir. Pada Readers Week bulan Juni kali ini, terdapat empat judul buku yang menjadi bahan diskusi, yaitu Shalat Pesan Rasulullah, Hujan karya Tere Liye, History’s Greatest Decisions 2023, serta Rindu karya Tere Liye. Keempat buku tersebut menghadirkan tema yang beragam, mulai dari nilai-nilai ibadah, kemanusiaan, pengambilan keputusan dalam sejarah, hingga makna perjalanan hidup dan kerinduan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari para pembaca. Pembaca Shalat Pesan Rasulullah menjelaskan pentingnya memahami shalat tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Buku ini membahas tata cara shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW serta mengajak pembaca untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui pemahaman yang benar.
Selanjutnya, pembaca Hujan karya Tere Liye membahas kisah yang berlatar dunia pascabencana dengan tokoh utama yang berjuang menghadapi kehilangan, perubahan, dan masa depan. Novel ini mengangkat nilai-nilai tentang keteguhan hati, harapan, serta pentingnya menerima masa lalu untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Pembaca History’s Greatest Decisions 2023 kemudian memaparkan berbagai keputusan penting yang pernah mengubah jalannya sejarah dunia. Buku ini memberikan gambaran mengenai latar belakang, proses pengambilan keputusan, serta dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat dan perkembangan peradaban. Melalui pembahasan tersebut, peserta diajak memahami pentingnya kepemimpinan, pertimbangan yang matang, dan konsekuensi dari setiap keputusan.
Sementara itu, pembaca Rindu karya Tere Liye menyampaikan kisah perjalanan haji yang mempertemukan berbagai tokoh dengan latar belakang dan permasalahan hidup yang berbeda. Novel ini menggambarkan proses pencarian makna kehidupan, pengampunan, serta kekuatan untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Melalui cerita tersebut, pembaca diajak merenungkan arti kerinduan kepada Tuhan, keluarga, maupun kedamaian dalam hati.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta dan para pembaca. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk bertukar pendapat, menyampaikan pertanyaan, serta membagikan pandangan terkait pesan moral yang terkandung dalam keempat buku tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan pengalaman yang dikaitkan dengan isi buku.
Kegiatan Readers Week kemudian ditutup oleh moderator. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya meningkatkan minat membaca, tetapi juga mampu memperluas wawasan, membangun rasa kekeluargaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui diskusi dan pertukaran perspektif.
DIUNGGAH PADA 29 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada hari Kamis, 11 Juni 2026, BEM FKG Universitas Hasanuddin sukses menyelenggarakan kegiatan Kajian Rutin Islam. Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat menggugah dan relevan dengan tantangan generasi muda saat ini, yaitu "Normalisasi Nilai dan Ujian Fitrah di Era Modern".
Intisari dari kajian ini menyoroti bagaimana derasnya arus informasi dan gaya hidup masa kini sering kali menggeser standar moral di tengah masyarakat. Hal-hal yang bertentangan dengan syariat, perlahan-lahan mulai dianggap biasa atau "dinormalisasi" akibat paparan media sosial dan lingkungan. Pemateri mengajak para mahasiswa untuk menyadari bahwa fenomena ini merupakan bentuk ujian terhadap fitrah—yakni tabiat suci dan kecenderungan bawaan manusia untuk mengenali kebenaran serta ajaran agama.
Dalam pemaparan materi, ditekankan bahwa mahasiswa rentan mengalami krisis identitas spiritual jika tidak memiliki filter yang kuat. Tuntutan akademik yang tinggi, ditambah dengan pergaulan di era modern, sering kali membuat kepekaan nurani menjadi tumpul. Oleh karena itu, kajian ini mengingatkan peserta untuk senantiasa menjadikan iman dan Al-Qur'an sebagai jangkar. Menjaga fitrah di era modern bukan berarti menutup diri dari kemajuan zaman, melainkan mampu memilah mana nilai yang pantas diadopsi dan mana yang harus ditinggalkan.
Melalui diskusi yang terbangun, mahasiswa didorong untuk menjadikan ibadah tidak hanya sebagai rutinitas menggugurkan kewajiban, tetapi sebagai perisai dari desakan normalisasi nilai-nilai negatif. Dengan pemahaman spiritual yang kokoh, para peserta yang merupakan calon-calon tenaga kesehatan ini diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual dan akademis, tetapi juga memiliki integritas moral yang tidak mudah goyah oleh arus zaman.
DIUNGGAH PADA 29 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
MAKASSAR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas) melalui program TW Dental Library sukses menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku yang bertajuk "8 Etos Kerja Profesional". Kegiatan yang dinantikan oleh Keluarga Mahasiswa (KM) FKG Unhas ini berlangsung secara interaktif pada Rabu, 10 Juni 2026, bertempat di Sija Pettarani, Makassar.
8 Etos Kerja Profesional karya Jansen Sinamo merupakan sebuah buku pengembangan karakter yang mengangkat pentingnya etos kerja sebagai fondasi keberhasilan individu maupun organisasi. Melalui delapan prinsip etos kerja yang dirumuskan oleh Jansen Sinamo, pembaca diajak untuk memaknai pekerjaan bukan sekadar sebagai sarana mencari nafkah, melainkan sebagai rahmat, amanah, panggilan, aktualisasi, ibadah, seni, kehormatan, dan pelayanan. Buku ini menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga oleh sikap, integritas, serta komitmen dalam bekerja. Lebih dari sekadar panduan profesional, buku ini menjadi sarana refleksi bagi generasi muda untuk membangun karakter unggul, meningkatkan produktivitas, dan menumbuhkan tanggung jawab dalam menghadapi tantangan kehidupan maupun dunia kerja.
Untuk membedah secara mendalam isi dan esensi dari buku tersebut, TW Dental Library menghadirkan dua pemateri yang merupakan tokoh fungsionaris lembaga kemahasiswaan di internal FKG Unhas, yaitu:
Az-Zahrawani Nisaa (Bendahara Umum BEM FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Andi Putri Fitria Salsabila (Sekretaris Umum Maperwa FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Diskusi yang berjalan hangat ini dipandu secara apik oleh Nayla Alfi Khaerah Alamsyah (Anggota KM FKG Unhas) selaku Moderator, yang berhasil menghidupkan suasana tanya jawab serta mengalirkan pemikiran-pemikiran kritis dari para peserta yang hadir.
Melalui kegiatan bedah buku ini, TW Dental Library berharap mahasiswa dapat terus menumbuhkan budaya literasi yang kuat serta menerapkan nilai-nilai etos kerja profesional. Dengan demikian, segenap Keluarga Mahasiswa FKG Unhas mampu untuk terus berkarya, berkontribusi secara aktif, dan menjunjung tinggi profesionalitas.
DIUNGGAH PADA 29 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Pada Selasa, 26 Mei 2026, telah dilaksanakan kegiatan Readers Week sebagai wadah bagi para peminjam buku untuk membagikan pandangan, pemahaman, serta pesan yang diperoleh dari buku yang telah dibaca selama satu bulan terakhir. Pada Readers Week bulan Mei kali ini, terdapat empat judul buku yang menjadi bahan diskusi, yaitu Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye, The Rise of Kyoshi, serta 25 Kisah Nabi dan Rasul. Keempat buku tersebut menghadirkan tema yang beragam, mulai dari perjuangan hidup, kondisi sosial dan politik, perjalanan kepemimpinan, hingga nilai-nilai keteladanan dalam kehidupan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari para pembaca. Pembaca Gadis Pantai menjelaskan kisah kehidupan seorang gadis dari kalangan rakyat biasa yang harus menghadapi kerasnya realitas sosial pada masa feodal Jawa. Buku karya Pramoedya Ananta Toer tersebut menggambarkan ketimpangan sosial, perjuangan perempuan, serta pencarian jati diri di tengah keterbatasan yang ada.
Selanjutnya, pembaca Negeri di Ujung Tanduk membahas novel karya Tere Liye yang mengangkat tema politik, kekuasaan, dan perjuangan melawan praktik korupsi. Melalui alur cerita yang penuh ketegangan, buku ini memperlihatkan pentingnya keberanian, integritas, serta kecerdasan dalam menghadapi berbagai konflik dan kepentingan yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun pemerintahan.
Pembaca The Rise of Kyoshi kemudian memaparkan perjalanan Kyoshi dalam menemukan jati dirinya sebagai Avatar. Buku ini menampilkan proses pembentukan karakter, tanggung jawab besar yang harus dihadapi, serta perjuangan dalam menegakkan keadilan. Selain itu, cerita tersebut juga menyoroti pentingnya keberanian, pengendalian diri, dan keteguhan prinsip dalam menghadapi berbagai tantangan.
Sementara itu, pembaca 25 Kisah Nabi dan Rasul menyampaikan berbagai kisah keteladanan para nabi dan rasul yang sarat akan nilai moral dan spiritual. Buku ini mengajarkan pentingnya keimanan, kesabaran, kejujuran, serta sikap pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Melalui kisah-kisah tersebut, peserta diajak untuk mengambil hikmah dan menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta dan para pembaca. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk bertukar pendapat, menyampaikan pertanyaan, serta membagikan pandangan terkait pesan moral yang terkandung dalam keempat buku tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan pengalaman yang dikaitkan dengan isi buku.
Kegiatan Readers Week kemudian ditutup oleh moderator. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya meningkatkan minat membaca, tetapi juga mampu memperluas wawasan, membangun rasa kekeluargaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui diskusi dan pertukaran perspektif.
DIUNGGAH PADA 2 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
Penulis: Muh. Al-Asyri Prasetya Pratama - Wakil Ketua Umum MAPERWA
Generasi muda merupakan aset penting bagi kemajuan bangsa. Di era modern, pemuda dituntut untuk memiliki pengetahuan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun, banyak generasi muda yang masih kurang memiliki arah dan motivasi dalam mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, diperlukan langkah edukatif yang terarah agar generasi muda mampu menjadi pribadi yang produktif dan berkarya.
Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, pola pikir, dan kemampuan seseorang. Menurut Pedagogi Kaum Tertindas, pendidikan tidak hanya menjadi proses penyampaian ilmu, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran kritis dan membebaskan manusia dari keterbelakangan berpikir. Pendidikan yang baik mampu mendorong generasi muda untuk aktif, kreatif, dan berani menciptakan perubahan.
Selain itu, Pendidikan Karakter menjelaskan bahwa pendidikan juga berfungsi membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah edukatif dapat dimulai dari membangun kebiasaan positif, meningkatkan literasi, dan mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakat. Dalam Atomic Habits dijelaskan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Generasi muda juga perlu memiliki pola pikir berkembang atau growth mindset agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Dengan pendidikan dan lingkungan yang mendukung, generasi muda dapat menjadi individu yang kreatif, inovatif, dan mampu berkarya bagi masyarakat.
LENTERA menggambarkan pentingnya pendidikan sebagai penerang bagi generasi muda dalam menentukan arah kehidupan. Melalui langkah edukatif yang terarah, generasi muda diharapkan mampu mengembangkan potensi diri, memiliki karakter yang baik, serta menjadi generasi yang aktif berkarya dan membawa perubahan positif bagi bangsa.
Referensi:
Pedagogi Kaum Tertindas. (2008). Jakarta: LP3ES.
Pendidikan Karakter. (2013). Jakarta: Bumi Aksara.
Atomic Habits. (2019). New York: Avery Publishing.
The 7 Habits of Highly Effective People. (2004).UN
DIUNGGAH PADA 2 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada hari Rabu, 20 Mei 2026, BEM FKG Universitas Hasanuddin sukses menyelenggarakan Kajian Rutin Islam. Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa, yaitu "Ketahanan Mental dan Manajemen
Spiritual". Intisari dari kajian ini membahas mengenai pentingnya menjaga ketenangan hati dalam Islam sebagai strategi utama manajemen stres di tengah
tekanan akademik. Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa mahasiswa harus mampu menjadikan sabar, salat, dan husnuzan sebagai cara menenangkan diri saat menghadapi tumpukan tugas. Peserta diajak untuk menyadari bahwa setiap rasa capek dalam belajar adalah bentuk perjuangan (jihad) yang bernilai ibadah. Dengan pengelolaan spiritual yang baik, mahasiswa diharapkan tetap kuat dan mampu menjadikan ibadah harian sebagai sarana "recharge" semangat di jadwal kampus yang padat.
DIUNGGAH PADA 24 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
MAKASSAR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas) melalui program TW Dental Library sukses menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku yang bertajuk "Gelap Terang Kartini: Sisi Lain Hidup dan Karya Sang Perempuan Perkasa". Kegiatan yang dinantikan oleh Keluarga Mahasiswa (KM) FKG Unhas ini berlangsung secara interaktif pada Selasa, 12 Mei 2026, bertempat di Kuva Kopi, Makassar.
Buku Gelap Terang Kartini sendiri merupakan sebuah karya literatur yang menghadirkan kembali kisah perjuangan Raden Adjeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Melalui goresan pemikiran dan surat-suratnya, Kartini secara konsisten menyuarakan pentingnya akses pendidikan, kebebasan berpikir, serta kesetaraan gender di tengah belenggu kuat kultur patriarki dan kolonialisme pada zamannya. Buku ini tidak hanya memotret keberanian Kartini masa lalu, tetapi juga menjadi pemantik refleksi bagi generasi muda saat ini bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian untuk berpikir dan bersuara.
Untuk membedah secara mendalam isi dan esensi dari buku tersebut, TW Dental Library menghadirkan dua pemateri yang merupakan tokoh fungsionaris lembaga kemahasiswaan di internal FKG Unhas, yaitu:
Ahmad Muflif (Sekretaris Umum BEM FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Muh Al Asyri Prasetya P (Wakil Ketua Maperwa FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Diskusi yang berjalan hangat ini dipandu secara apik oleh Amarya Frigia Yulius S (Anggota KM FKG Unhas) selaku Moderator, yang berhasil menghidupkan suasana tanya jawab serta mengalirkan pemikiran-pemikiran kritis dari para peserta yang hadir.
Melalui kegiatan bedah buku ini, TW Dental Library berharap dapat terus menumbuhkan budaya literasi yang kuat, sekaligus memotivasi segenap Keluarga Mahasiswa FKG Unhas—khususnya kaum perempuan—untuk terus maju, berpendidikan tinggi, dan tidak ragu dalam mengambil peran-peran strategis demi kemajuan bangsa.
DIUNGGAH PADA 24 MEI 2026
EDISI MEI 2026
Mahasiswa yang kerap disebut sebagai agen perubahan, penjaga nilai moral, sekaligus kelompok intelektual muda diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan bangsa. Peran ini tidak lahir secara spontan, melainkan melalui proses pendidikan yang membangun kesadaran kritis terhadap realitas sosial. Pendidikan, menurut Paulo Freire (1970), seharusnya menjadi sarana pembebasan yang mendorong individu memahami dan mentransformasikan realitas sosialnya. Sayangnya, di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, muncul pertanyaan reflektif: apakah mahasiswa hari ini mampu mengeksplorasi realitas secara kritis, atau justru terjebak dalam rutinitas akademik yang monoton?
Realitas yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Ketimpangan sosial, perubahan budaya, krisis lingkungan, hingga tantangan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa dunia tidak berjalan dalam kondisi ideal. Realitas sosial sendiri terbentuk melalui interaksi manusia dan pengalaman keseharian, sebagaimana dijelaskan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966) bahwa masyarakat membangun makna realitas melalui proses sosial yang berkelanjutan. Oleh karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penerima ilmu di ruang kuliah, tetapi perlu membaca kehidupan nyata di luar kampus.
Eksplorasi realitas bagi mahasiswa bukan sekadar observasi, melainkan proses intelektual untuk memahami persoalan masyarakat secara mendalam. Pengalaman langsung menjadi bagian penting dari pembelajaran karena pengetahuan memperoleh makna melalui praktik sosial (Dewey, 1938). Ketika mahasiswa turun ke masyarakat melalui penelitian, pengabdian, maupun aktivitas sosial, di situlah ilmu pengetahuan menemukan relevansinya sebagai alat pemecahan masalah nyata.
Di sinilah pentingnya transformasi intelektual. Mahasiswa perlu bergerak dari pola pikir pasif menuju kesadaran reflektif dan kritis. Transformasi pembelajaran terjadi ketika individu merefleksikan pengalaman hidupnya secara mendalam dan mengubah cara berpikirnya (Mezirow, 1991). Transformasi intelektual berarti keberanian untuk mempertanyakan, menganalisis, dan merefleksikan realitas dengan pendekatan ilmiah sekaligus humanis.
Seorang mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial terhadap dinamika masyarakat. Konsep intelektual yang terlibat aktif dalam kehidupan sosial pernah ditegaskan oleh Antonio Gramsci (1971) melalui gagasan intelektual organik, yakni kelompok terdidik yang berperan dalam perubahan sosial.
Transformasi tersebut harus dibangun melalui karakter visioner dan adaptif. Perubahan teknologi dan masyarakat jaringan menuntut generasi muda mampu beradaptasi secara cepat terhadap dinamika zaman (Castells, 2010). Sikap visioner membantu mahasiswa melihat peluang masa depan, sementara sikap adaptif menjaga relevansi intelektual di tengah perkembangan teknologi digital yang terus berlangsung.
Namun demikian, realitas mahasiswa hari ini juga dihadapkan pada tantangan internal. Budaya instan dan ketergantungan pada informasi singkat berpotensi melemahkan kemampuan berpikir mendalam. Fenomena ini sejalan dengan kritik Nicholas Carr (2010) yang menyatakan bahwa era digital dapat mengurangi konsentrasi dan kedalaman refleksi intelektual. Jika orientasi akademik hanya berfokus pada capaian nilai, maka mahasiswa berisiko kehilangan identitasnya sebagai kelompok intelektual progresif.
Oleh karena itu, kampus dan organisasi kemahasiswaan memiliki peran strategis sebagai ruang transformasi intelektual. Kebijakan pendidikan modern bahkan menekankan pembelajaran berbasis pengalaman sosial dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari pembentukan kompetensi mahasiswa (UNESCO, 2015). Forum diskusi, kajian ilmiah, gerakan literasi, hingga kegiatan pengabdian harus dimaknai sebagai proses pembelajaran sosial yang membentuk kepemimpinan intelektual.
Sebagai mahasiswa, eksplorasi realitas berarti keberanian keluar dari zona nyaman. Mahasiswa perlu hadir di tengah masyarakat, mendengar suara akar rumput, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana pemberdayaan. Intelektualitas tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata yang berdampak sosial.
Pada akhirnya, mendorong eksplorasi realitas melalui transformasi intelektual yang visioner dan adaptif merupakan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai insan akademik. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh generasi muda yang mampu berpikir kritis, berempati sosial, dan berani mengambil peran dalam perubahan. Ketika mahasiswa mampu mentransformasikan intelektualitasnya menjadi gerakan yang adaptif dan visioner, maka kampus tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga manusia yang memahami realitas dan mengubahnya menjadi harapan bagi masyarakat.
Referensi :
Berger, P.L. & Luckmann, T., 1966. The Social Construction of Reality. New York: Anchor Books.
Carr, N., 2010. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W.W. Norton.
Castells, M., 2010. The Rise of the Network Society. Oxford: Blackwell.
Dewey, J., 1938. Experience and Education. New York: Macmillan.
Freire, P., 1970. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Gramsci, A., 1971. Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers.
Mezirow, J., 1991. Transformative Dimensions of Adult Learning. San Francisco: Jossey-Bass.
UNESCO, 2015. Rethinking Education: Towards a Global Common Good? Paris: UNESCO.
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Acara bedah buku mengenai Soe Hok Gie di Rumana Cafe pada Selasa malam (28/4/2026) menjadi momen refleksi tentang keberanian intelektual. Melalui karya legendarisnya, Catatan Seorang Demonstran, peserta diajak mengenang sosok aktivis angkatan '66 yang teguh membela kebenaran hingga akhir hayatnya di puncak Gunung Semeru.
Sikap kritis Gie tumbuh sejak masa kecilnya di Batavia. Ia dikenal sebagai anak yang gemar membaca dan berani mempertanyakan ketidakadilan, bahkan terhadap figur otoritas di sekolah. Baginya, kebenaran tidak boleh kalah oleh rasa takut, sebuah prinsip yang ia pegang teguh di tengah gejolak politik Demokrasi Terpimpin.
Saat menempuh pendidikan Sejarah di Universitas Indonesia, Gie menjadikan kampus sebagai kekuatan moral yang independen. Ia menolak tunduk pada kepentingan partai dan lebih memilih berjuang sendirian demi prinsipnya. Di sela aktivitas politik, ia mempelopori pembentukan Mapala untuk menemukan kejujuran di alam bebas, jauh dari kepalsuan ambisi kota.
Konsistensi Gie terbukti melalui keberaniannya mengkritik penyimpangan pada rezim Orde Lama maupun Orde Baru. Diskusi malam itu menitipkan pesan kuat bagi mahasiswa agar tidak menyerahkan hati nurani kepada kekuasaan, selaras dengan kutipan legendarisnya:
"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.“
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Pada Rabu, 29 April 2026, telah dilaksanakan kegiatan Readers Week sebagai wadah bagi para peminjam buku untuk membagikan pandangan, pemahaman, serta pesan yang diperoleh dari buku yang telah dibaca selama satu bulan terakhir. Pada Readers Week kali ini, terdapat tiga judul buku yang menjadi bahan diskusi, yaitu “Bicara Itu Ada Seninya”, “Laut Bercerita”, dan “Si Anak Spesial”. Ketiga buku tersebut menghadirkan tema yang berbeda, mulai dari keterampilan komunikasi, perjuangan kemanusiaan, hingga makna keluarga dan penerimaan diri.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari para pembaca. Pembaca buku Bicara Itu Ada Seninya menjelaskan pentingnya kemampuan berkomunikasi yang baik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan sosial, menyampaikan pendapat, serta memahami perasaan orang lain. Buku ini menekankan bahwa cara berbicara yang tepat dapat memberikan pengaruh besar terhadap lingkungan sekitar.
Selanjutnya, pembaca Laut Bercerita membahas isi novel yang menggambarkan perjuangan, kehilangan, dan pencarian keadilan pada masa kelam sejarah Indonesia. Buku karya Leila S. Chudori tersebut memperlihatkan sisi kemanusiaan dari para tokohnya serta menggambarkan kuatnya ikatan keluarga dan persahabatan di tengah situasi yang penuh tekanan. Melalui cerita tersebut, peserta diajak untuk lebih memahami nilai keberanian, kepedulian, dan pentingnya menjaga hak asasi manusia.
Sementara itu, pembaca Si Anak Spesial memaparkan kisah mengenai kehidupan anak dengan karakter dan kemampuan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Buku ini menyampaikan pesan tentang pentingnya dukungan keluarga, rasa percaya diri, serta penerimaan terhadap keunikan setiap individu. Selain itu, buku tersebut juga mengajarkan nilai empati dan menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta dan para pembaca. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk bertukar pendapat, menyampaikan pertanyaan, serta membagikan pandangan terkait pesan moral yang terkandung dalam ketiga buku tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan pengalaman yang dikaitkan dengan isi buku.
Kegiatan Readers Week kemudian ditutup oleh moderator. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya meningkatkan minat membaca, tetapi juga mampu memperluas wawasan, membangun rasa kekeluargaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui diskusi dan pertukaran perspektif.
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada hari Selasa, 28 April 2026, BEM FKG Universitas Hasanuddin sukses menyelenggarakan Kajian Rutin Islam yang bertempat di Masjid Al-Aqsho (depan FK Unhas). Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan tantangan generasi muda saat ini, yaitu "Identitas Muslim di Era Validasi".
Intisari dari kajian ini membahas mengenai pentingnya menjaga keteguhan jati diri seorang Muslim di tengah derasnya arus media sosial yang sering kali menuntut pengakuan atau validasi dari sesama manusia. Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa seorang Muslim harus mampu menjadikan akidah sebagai landasan utama dalam berpikir dan bertindak, sehingga tidak mudah goyah oleh tren duniawi yang bersifat semu. Peserta diajak untuk menyadari bahwa kebahagiaan dan ketenangan sejati hanya dapat diraih ketika kita melepaskan ketergantungan pada penilaian manusia dan kembali fokus mengejar rida Allah SWT. Dengan pemahaman identitas yang kuat, mahasiswa diharapkan tetap mampu tampil percaya diri sebagai Muslim yang progresif tanpa kehilangan prinsip-prinsip islami di era modern ini.
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
Sejak pandemi COVID-19, sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) menjadi solusi utama agar aktivitas kerja tetap berjalan. Banyak orang merasa WFH adalah pilihan yang nyaman karena lebih fleksibel dan tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai masalah yang membuat kebijakan ini mulai dipertanyakan, terutama jika diterapkan dalam jangka panjang.
Salah satu persoalan yang sering muncul adalah menurunnya produktivitas. Bekerja dari rumah memang terlihat santai, tetapi justru penuh dengan gangguan. Mulai dari urusan rumah tangga, suara lingkungan, hingga godaan untuk beristirahat lebih lama. Tidak semua orang memiliki ruang kerja yang nyaman di rumah, sehingga sulit untuk benar-benar fokus. Selain itu, tanpa pengawasan langsung dari atasan, sebagian pekerja menjadi kurang disiplin dalam mengatur waktu dan menyelesaikan pekerjaan. Studi oleh Bloom et al. (2015) menunjukkan bahwa meskipun WFH dapat meningkatkan produktivitas dalam kondisi tertentu, faktor lingkungan kerja tetap sangat menentukan hasilnya.
Di sisi lain, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi semakin kabur. Banyak pekerja merasa harus selalu “siap” meskipun sudah di luar jam kerja. Alih-alih memiliki keseimbangan hidup, mereka justru bekerja lebih lama dari biasanya. Kondisi ini bisa memicu kelelahan, stres, bahkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental. Menurut laporan World Health Organization (WHO, 2021), jam kerja yang panjang dan tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental secara signifikan.
Kurangnya interaksi sosial juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam lingkungan kerja, komunikasi langsung sering kali membantu mempercepat penyelesaian masalah dan memunculkan ide-ide baru. Namun, dalam sistem WFH, interaksi terbatas pada layar, yang terkadang terasa kaku dan kurang efektif. Hal ini dapat membuat hubungan antar rekan kerja menjadi kurang dekat dan kerja tim tidak berjalan maksimal. Penelitian dari Microsoft (2021) juga menunjukkan bahwa kerja jarak jauh dapat mengurangi kolaborasi spontan dalam tim.
Selain itu, dampak terhadap kesehatan fisik juga tidak bisa diabaikan. Terlalu lama duduk di depan layar tanpa aktivitas fisik dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti nyeri punggung, pegal pada leher, hingga kelelahan mata. Tanpa rutinitas yang jelas, banyak orang juga mulai mengabaikan pola makan dan olahraga, yang pada akhirnya memengaruhi kondisi kesehatan secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan temuan dari Mayo Clinic (2020) mengenai risiko gaya hidup sedentari.
Masalah lain yang sering terjadi adalah ketimpangan fasilitas. Tidak semua pekerja memiliki akses internet yang stabil atau perangkat kerja yang memadai. Lingkungan rumah yang ramai juga bisa menjadi hambatan. Kondisi ini membuat tidak semua orang bisa bekerja secara optimal, sehingga menimbulkan perbedaan hasil kerja. International Labour Organization (ILO, 2020) juga menyoroti adanya kesenjangan dalam penerapan kerja jarak jauh di berbagai kelompok pekerja.
Secara keseluruhan, work from home memang memberikan kemudahan dan fleksibilitas, tetapi bukan tanpa kekurangan. Berbagai tantangan seperti produktivitas yang menurun, gangguan kesehatan, hingga kurangnya interaksi sosial perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang lebih seimbang, seperti sistem kerja hybrid, agar manfaat WFH tetap bisa dirasakan tanpa mengorbankan kualitas kerja dan kesejahteraan pekerja.
Referensi :
Bloom N, Liang J, Roberts J, Ying ZJ. Does working from home work? Evidence from a Chinese experiment. Q J Econ. 2015;130(1):165–218.
International Labour Organization. Teleworking during the COVID-19 pandemic and beyond. Geneva: ILO; 2020.
Mayo Clinic. Sedentary behavior: how to reduce your risk . 2020 [cited 2026 May 1].
Microsoft. The effects of remote work on collaboration: Work Trend Index Report. 2021.
World Health Organization. Long working hours and health. Geneva: WHO; 2021
DIUNGGAH PADA 7 MEI 2026
EDISI MEI 2026