Penulis: Dinah Anggun Afrini - Wakil Bendahara Umum BEM FKG UH
Sejarah Indonesia tidak pernah benar-benar terpisah dari peran mahasiswa. Dari masa pergerakan nasional, reformasi, hingga era transformasi digital saat ini, mahasiswa selalu hadir sebagai kelompok yang membawa gagasan, mengkritisi arah kebijakan, sekaligus menawarkan solusi. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas persoalan bangsa, peran mahasiswa mengalami pergeseran mulai dari sekadar “penyampai aspirasi” menjadi penggerak perubahan berbasis pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata. “Nalar yang bersuara” bukan sekadar kemampuan berbicara lantang, tetapi keberanian menggunakan akal, data, etika, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik. Mahasiswa menjadi kelompok strategis karena memiliki akses terhadap pendidikan, ruang intelektual, dan jejaring sosial yang memungkinkan untuk mengawal masa depan negeri secara lebih substansial.
Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change, tetapi istilah tersebut akan kehilangan makna jika berhenti pada slogan. Di era sekarang, perubahan tidak lagi hanya dilakukan melalui demonstrasi atau pernyataan sikap, melainkan juga melalui produksi gagasan, inovasi sosial, penelitian, advokasi kebijakan, dan gerakan berbasis komunitas. Salah satu tantangan terbesar generasi mahasiswa saat ini adalah banjir informasi. Kemajuan teknologi mempercepat akses pengetahuan, tetapi juga memperbesar risiko disinformasi, polarisasi, dan partisipasi yang bersifat reaktif. Karena itu, mahasiswa perlu menempatkan nalar sebagai fondasi gerakan. Nalar berarti kemampuan membaca konteks, mengevaluasi informasi, memahami dampak kebijakan, serta membangun argumentasi berbasis fakta.
Mahasiswa bukan sekadar kelompok yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Mahasiswa adalah penjaga arah, penguji kebijakan, dan pencipta kemungkinan baru bagi bangsa. Ketika nalar digunakan untuk memahami realitas dan suara digunakan untuk memperjuangkan perubahan, mahasiswa tidak hanya menjadi saksi sejarah tetapi menjadi penulisnya. Masa depan negeri tidak menunggu siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling konsisten menyuarakan nalar dan mewujudkannya dalam tindakan.
REFERENSI:
Malnes, H. A., & Najicha, F. U. (2024). Peran Media Sosial dalam
Mencapai Civic Participation pada Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 8(1), 223–235. DOI: 10.31571/jpkn.v8i1.6051
Inayah, D., & Amalia, G. (2026). Implementasi Serta Peran Aktif Mahasiswa dalam Memperkuat Ketahanan Nasional dan Bela Negara. Civic Edu: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan. DOI: 10.23969/civicedu.v7i1.26863
Gumilar, A. T., dkk. (2025). Revitalisasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum Berbasis Proyek: Upaya Meningkatkan Civic Engagement dan Karakter Kewargaan. Jurnal Moral Kemasyarakatan. DOI: 10.21067/jmk.v10i2.12137
DIUNGGAH PADA 1 JULI 2026
EDISI JULI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Innovation of Scientific Writing and Thought (INSIGHT) 2026 merupakan rangkaian seminar dan workshop yang dirancang sebagai wadah pengembangan diri bagi Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun karya tulis ilmiah yang sesuai dengan standar akademik, sekaligus mendorong tumbuhnya kreativitas dan kemampuan berpikir logis serta kritis.
Melalui pendekatan edukatif dan aplikatif, INSIGHT 2026 menghadirkan sesi seminar interaktif, workshop penyusunan abstrak literature review, serta sesi presentasi hasil workshop di mana setiap kelompok berkesempatan untuk memaparkan abstrak yang telah mereka susun di depan forum. Diharapkan, pemahaman dan keterampilan menulis ilmiah yang diperoleh dari kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam berbagai kompetisi ilmiah serta menghasilkan karya tulis yang berkualitas.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 bertempat di Ruang Molar FKG Unhas dengan penuh semangat dan antusiasme dalam berkarya ilmiah.
DIUNGGAH PADA 1 JULI 2026
EDISI JULI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Pada Senin, 22 Juni 2026, telah dilaksanakan kegiatan Readers Week sebagai wadah bagi para peminjam buku untuk membagikan pandangan, pemahaman, serta pesan yang diperoleh dari buku yang telah dibaca selama satu bulan terakhir. Pada Readers Week bulan Juni kali ini, terdapat empat judul buku yang menjadi bahan diskusi, yaitu Shalat Pesan Rasulullah, Hujan karya Tere Liye, History’s Greatest Decisions 2023, serta Rindu karya Tere Liye. Keempat buku tersebut menghadirkan tema yang beragam, mulai dari nilai-nilai ibadah, kemanusiaan, pengambilan keputusan dalam sejarah, hingga makna perjalanan hidup dan kerinduan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari para pembaca. Pembaca Shalat Pesan Rasulullah menjelaskan pentingnya memahami shalat tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Buku ini membahas tata cara shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW serta mengajak pembaca untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui pemahaman yang benar.
Selanjutnya, pembaca Hujan karya Tere Liye membahas kisah yang berlatar dunia pascabencana dengan tokoh utama yang berjuang menghadapi kehilangan, perubahan, dan masa depan. Novel ini mengangkat nilai-nilai tentang keteguhan hati, harapan, serta pentingnya menerima masa lalu untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Pembaca History’s Greatest Decisions 2023 kemudian memaparkan berbagai keputusan penting yang pernah mengubah jalannya sejarah dunia. Buku ini memberikan gambaran mengenai latar belakang, proses pengambilan keputusan, serta dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat dan perkembangan peradaban. Melalui pembahasan tersebut, peserta diajak memahami pentingnya kepemimpinan, pertimbangan yang matang, dan konsekuensi dari setiap keputusan.
Sementara itu, pembaca Rindu karya Tere Liye menyampaikan kisah perjalanan haji yang mempertemukan berbagai tokoh dengan latar belakang dan permasalahan hidup yang berbeda. Novel ini menggambarkan proses pencarian makna kehidupan, pengampunan, serta kekuatan untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Melalui cerita tersebut, pembaca diajak merenungkan arti kerinduan kepada Tuhan, keluarga, maupun kedamaian dalam hati.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta dan para pembaca. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk bertukar pendapat, menyampaikan pertanyaan, serta membagikan pandangan terkait pesan moral yang terkandung dalam keempat buku tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan pengalaman yang dikaitkan dengan isi buku.
Kegiatan Readers Week kemudian ditutup oleh moderator. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya meningkatkan minat membaca, tetapi juga mampu memperluas wawasan, membangun rasa kekeluargaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui diskusi dan pertukaran perspektif.
DIUNGGAH PADA 29 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada hari Kamis, 11 Juni 2026, BEM FKG Universitas Hasanuddin sukses menyelenggarakan kegiatan Kajian Rutin Islam. Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat menggugah dan relevan dengan tantangan generasi muda saat ini, yaitu "Normalisasi Nilai dan Ujian Fitrah di Era Modern".
Intisari dari kajian ini menyoroti bagaimana derasnya arus informasi dan gaya hidup masa kini sering kali menggeser standar moral di tengah masyarakat. Hal-hal yang bertentangan dengan syariat, perlahan-lahan mulai dianggap biasa atau "dinormalisasi" akibat paparan media sosial dan lingkungan. Pemateri mengajak para mahasiswa untuk menyadari bahwa fenomena ini merupakan bentuk ujian terhadap fitrah—yakni tabiat suci dan kecenderungan bawaan manusia untuk mengenali kebenaran serta ajaran agama.
Dalam pemaparan materi, ditekankan bahwa mahasiswa rentan mengalami krisis identitas spiritual jika tidak memiliki filter yang kuat. Tuntutan akademik yang tinggi, ditambah dengan pergaulan di era modern, sering kali membuat kepekaan nurani menjadi tumpul. Oleh karena itu, kajian ini mengingatkan peserta untuk senantiasa menjadikan iman dan Al-Qur'an sebagai jangkar. Menjaga fitrah di era modern bukan berarti menutup diri dari kemajuan zaman, melainkan mampu memilah mana nilai yang pantas diadopsi dan mana yang harus ditinggalkan.
Melalui diskusi yang terbangun, mahasiswa didorong untuk menjadikan ibadah tidak hanya sebagai rutinitas menggugurkan kewajiban, tetapi sebagai perisai dari desakan normalisasi nilai-nilai negatif. Dengan pemahaman spiritual yang kokoh, para peserta yang merupakan calon-calon tenaga kesehatan ini diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual dan akademis, tetapi juga memiliki integritas moral yang tidak mudah goyah oleh arus zaman.
DIUNGGAH PADA 29 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
MAKASSAR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas) melalui program TW Dental Library sukses menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku yang bertajuk "8 Etos Kerja Profesional". Kegiatan yang dinantikan oleh Keluarga Mahasiswa (KM) FKG Unhas ini berlangsung secara interaktif pada Rabu, 10 Juni 2026, bertempat di Sija Pettarani, Makassar.
8 Etos Kerja Profesional karya Jansen Sinamo merupakan sebuah buku pengembangan karakter yang mengangkat pentingnya etos kerja sebagai fondasi keberhasilan individu maupun organisasi. Melalui delapan prinsip etos kerja yang dirumuskan oleh Jansen Sinamo, pembaca diajak untuk memaknai pekerjaan bukan sekadar sebagai sarana mencari nafkah, melainkan sebagai rahmat, amanah, panggilan, aktualisasi, ibadah, seni, kehormatan, dan pelayanan. Buku ini menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga oleh sikap, integritas, serta komitmen dalam bekerja. Lebih dari sekadar panduan profesional, buku ini menjadi sarana refleksi bagi generasi muda untuk membangun karakter unggul, meningkatkan produktivitas, dan menumbuhkan tanggung jawab dalam menghadapi tantangan kehidupan maupun dunia kerja.
Untuk membedah secara mendalam isi dan esensi dari buku tersebut, TW Dental Library menghadirkan dua pemateri yang merupakan tokoh fungsionaris lembaga kemahasiswaan di internal FKG Unhas, yaitu:
Az-Zahrawani Nisaa (Bendahara Umum BEM FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Andi Putri Fitria Salsabila (Sekretaris Umum Maperwa FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Diskusi yang berjalan hangat ini dipandu secara apik oleh Nayla Alfi Khaerah Alamsyah (Anggota KM FKG Unhas) selaku Moderator, yang berhasil menghidupkan suasana tanya jawab serta mengalirkan pemikiran-pemikiran kritis dari para peserta yang hadir.
Melalui kegiatan bedah buku ini, TW Dental Library berharap mahasiswa dapat terus menumbuhkan budaya literasi yang kuat serta menerapkan nilai-nilai etos kerja profesional. Dengan demikian, segenap Keluarga Mahasiswa FKG Unhas mampu untuk terus berkarya, berkontribusi secara aktif, dan menjunjung tinggi profesionalitas.
DIUNGGAH PADA 29 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Pada Selasa, 26 Mei 2026, telah dilaksanakan kegiatan Readers Week sebagai wadah bagi para peminjam buku untuk membagikan pandangan, pemahaman, serta pesan yang diperoleh dari buku yang telah dibaca selama satu bulan terakhir. Pada Readers Week bulan Mei kali ini, terdapat empat judul buku yang menjadi bahan diskusi, yaitu Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye, The Rise of Kyoshi, serta 25 Kisah Nabi dan Rasul. Keempat buku tersebut menghadirkan tema yang beragam, mulai dari perjuangan hidup, kondisi sosial dan politik, perjalanan kepemimpinan, hingga nilai-nilai keteladanan dalam kehidupan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari para pembaca. Pembaca Gadis Pantai menjelaskan kisah kehidupan seorang gadis dari kalangan rakyat biasa yang harus menghadapi kerasnya realitas sosial pada masa feodal Jawa. Buku karya Pramoedya Ananta Toer tersebut menggambarkan ketimpangan sosial, perjuangan perempuan, serta pencarian jati diri di tengah keterbatasan yang ada.
Selanjutnya, pembaca Negeri di Ujung Tanduk membahas novel karya Tere Liye yang mengangkat tema politik, kekuasaan, dan perjuangan melawan praktik korupsi. Melalui alur cerita yang penuh ketegangan, buku ini memperlihatkan pentingnya keberanian, integritas, serta kecerdasan dalam menghadapi berbagai konflik dan kepentingan yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun pemerintahan.
Pembaca The Rise of Kyoshi kemudian memaparkan perjalanan Kyoshi dalam menemukan jati dirinya sebagai Avatar. Buku ini menampilkan proses pembentukan karakter, tanggung jawab besar yang harus dihadapi, serta perjuangan dalam menegakkan keadilan. Selain itu, cerita tersebut juga menyoroti pentingnya keberanian, pengendalian diri, dan keteguhan prinsip dalam menghadapi berbagai tantangan.
Sementara itu, pembaca 25 Kisah Nabi dan Rasul menyampaikan berbagai kisah keteladanan para nabi dan rasul yang sarat akan nilai moral dan spiritual. Buku ini mengajarkan pentingnya keimanan, kesabaran, kejujuran, serta sikap pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Melalui kisah-kisah tersebut, peserta diajak untuk mengambil hikmah dan menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta dan para pembaca. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk bertukar pendapat, menyampaikan pertanyaan, serta membagikan pandangan terkait pesan moral yang terkandung dalam keempat buku tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan pengalaman yang dikaitkan dengan isi buku.
Kegiatan Readers Week kemudian ditutup oleh moderator. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya meningkatkan minat membaca, tetapi juga mampu memperluas wawasan, membangun rasa kekeluargaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui diskusi dan pertukaran perspektif.
DIUNGGAH PADA 2 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
Penulis: Muh. Al-Asyri Prasetya Pratama - Wakil Ketua Umum MAPERWA
Generasi muda merupakan aset penting bagi kemajuan bangsa. Di era modern, pemuda dituntut untuk memiliki pengetahuan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun, banyak generasi muda yang masih kurang memiliki arah dan motivasi dalam mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, diperlukan langkah edukatif yang terarah agar generasi muda mampu menjadi pribadi yang produktif dan berkarya.
Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, pola pikir, dan kemampuan seseorang. Menurut Pedagogi Kaum Tertindas, pendidikan tidak hanya menjadi proses penyampaian ilmu, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran kritis dan membebaskan manusia dari keterbelakangan berpikir. Pendidikan yang baik mampu mendorong generasi muda untuk aktif, kreatif, dan berani menciptakan perubahan.
Selain itu, Pendidikan Karakter menjelaskan bahwa pendidikan juga berfungsi membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah edukatif dapat dimulai dari membangun kebiasaan positif, meningkatkan literasi, dan mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakat. Dalam Atomic Habits dijelaskan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Generasi muda juga perlu memiliki pola pikir berkembang atau growth mindset agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Dengan pendidikan dan lingkungan yang mendukung, generasi muda dapat menjadi individu yang kreatif, inovatif, dan mampu berkarya bagi masyarakat.
LENTERA menggambarkan pentingnya pendidikan sebagai penerang bagi generasi muda dalam menentukan arah kehidupan. Melalui langkah edukatif yang terarah, generasi muda diharapkan mampu mengembangkan potensi diri, memiliki karakter yang baik, serta menjadi generasi yang aktif berkarya dan membawa perubahan positif bagi bangsa.
Referensi:
Pedagogi Kaum Tertindas. (2008). Jakarta: LP3ES.
Pendidikan Karakter. (2013). Jakarta: Bumi Aksara.
Atomic Habits. (2019). New York: Avery Publishing.
The 7 Habits of Highly Effective People. (2004).UN
DIUNGGAH PADA 2 JUNI 2026
EDISI JUNI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada hari Rabu, 20 Mei 2026, BEM FKG Universitas Hasanuddin sukses menyelenggarakan Kajian Rutin Islam. Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa, yaitu "Ketahanan Mental dan Manajemen
Spiritual". Intisari dari kajian ini membahas mengenai pentingnya menjaga ketenangan hati dalam Islam sebagai strategi utama manajemen stres di tengah
tekanan akademik. Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa mahasiswa harus mampu menjadikan sabar, salat, dan husnuzan sebagai cara menenangkan diri saat menghadapi tumpukan tugas. Peserta diajak untuk menyadari bahwa setiap rasa capek dalam belajar adalah bentuk perjuangan (jihad) yang bernilai ibadah. Dengan pengelolaan spiritual yang baik, mahasiswa diharapkan tetap kuat dan mampu menjadikan ibadah harian sebagai sarana "recharge" semangat di jadwal kampus yang padat.
DIUNGGAH PADA 24 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
MAKASSAR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas) melalui program TW Dental Library sukses menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku yang bertajuk "Gelap Terang Kartini: Sisi Lain Hidup dan Karya Sang Perempuan Perkasa". Kegiatan yang dinantikan oleh Keluarga Mahasiswa (KM) FKG Unhas ini berlangsung secara interaktif pada Selasa, 12 Mei 2026, bertempat di Kuva Kopi, Makassar.
Buku Gelap Terang Kartini sendiri merupakan sebuah karya literatur yang menghadirkan kembali kisah perjuangan Raden Adjeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Melalui goresan pemikiran dan surat-suratnya, Kartini secara konsisten menyuarakan pentingnya akses pendidikan, kebebasan berpikir, serta kesetaraan gender di tengah belenggu kuat kultur patriarki dan kolonialisme pada zamannya. Buku ini tidak hanya memotret keberanian Kartini masa lalu, tetapi juga menjadi pemantik refleksi bagi generasi muda saat ini bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian untuk berpikir dan bersuara.
Untuk membedah secara mendalam isi dan esensi dari buku tersebut, TW Dental Library menghadirkan dua pemateri yang merupakan tokoh fungsionaris lembaga kemahasiswaan di internal FKG Unhas, yaitu:
Ahmad Muflif (Sekretaris Umum BEM FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Muh Al Asyri Prasetya P (Wakil Ketua Maperwa FKG Unhas) sebagai Pemateri.
Diskusi yang berjalan hangat ini dipandu secara apik oleh Amarya Frigia Yulius S (Anggota KM FKG Unhas) selaku Moderator, yang berhasil menghidupkan suasana tanya jawab serta mengalirkan pemikiran-pemikiran kritis dari para peserta yang hadir.
Melalui kegiatan bedah buku ini, TW Dental Library berharap dapat terus menumbuhkan budaya literasi yang kuat, sekaligus memotivasi segenap Keluarga Mahasiswa FKG Unhas—khususnya kaum perempuan—untuk terus maju, berpendidikan tinggi, dan tidak ragu dalam mengambil peran-peran strategis demi kemajuan bangsa.
DIUNGGAH PADA 24 MEI 2026
EDISI MEI 2026
Mahasiswa yang kerap disebut sebagai agen perubahan, penjaga nilai moral, sekaligus kelompok intelektual muda diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan bangsa. Peran ini tidak lahir secara spontan, melainkan melalui proses pendidikan yang membangun kesadaran kritis terhadap realitas sosial. Pendidikan, menurut Paulo Freire (1970), seharusnya menjadi sarana pembebasan yang mendorong individu memahami dan mentransformasikan realitas sosialnya. Sayangnya, di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, muncul pertanyaan reflektif: apakah mahasiswa hari ini mampu mengeksplorasi realitas secara kritis, atau justru terjebak dalam rutinitas akademik yang monoton?
Realitas yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Ketimpangan sosial, perubahan budaya, krisis lingkungan, hingga tantangan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa dunia tidak berjalan dalam kondisi ideal. Realitas sosial sendiri terbentuk melalui interaksi manusia dan pengalaman keseharian, sebagaimana dijelaskan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966) bahwa masyarakat membangun makna realitas melalui proses sosial yang berkelanjutan. Oleh karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penerima ilmu di ruang kuliah, tetapi perlu membaca kehidupan nyata di luar kampus.
Eksplorasi realitas bagi mahasiswa bukan sekadar observasi, melainkan proses intelektual untuk memahami persoalan masyarakat secara mendalam. Pengalaman langsung menjadi bagian penting dari pembelajaran karena pengetahuan memperoleh makna melalui praktik sosial (Dewey, 1938). Ketika mahasiswa turun ke masyarakat melalui penelitian, pengabdian, maupun aktivitas sosial, di situlah ilmu pengetahuan menemukan relevansinya sebagai alat pemecahan masalah nyata.
Di sinilah pentingnya transformasi intelektual. Mahasiswa perlu bergerak dari pola pikir pasif menuju kesadaran reflektif dan kritis. Transformasi pembelajaran terjadi ketika individu merefleksikan pengalaman hidupnya secara mendalam dan mengubah cara berpikirnya (Mezirow, 1991). Transformasi intelektual berarti keberanian untuk mempertanyakan, menganalisis, dan merefleksikan realitas dengan pendekatan ilmiah sekaligus humanis.
Seorang mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial terhadap dinamika masyarakat. Konsep intelektual yang terlibat aktif dalam kehidupan sosial pernah ditegaskan oleh Antonio Gramsci (1971) melalui gagasan intelektual organik, yakni kelompok terdidik yang berperan dalam perubahan sosial.
Transformasi tersebut harus dibangun melalui karakter visioner dan adaptif. Perubahan teknologi dan masyarakat jaringan menuntut generasi muda mampu beradaptasi secara cepat terhadap dinamika zaman (Castells, 2010). Sikap visioner membantu mahasiswa melihat peluang masa depan, sementara sikap adaptif menjaga relevansi intelektual di tengah perkembangan teknologi digital yang terus berlangsung.
Namun demikian, realitas mahasiswa hari ini juga dihadapkan pada tantangan internal. Budaya instan dan ketergantungan pada informasi singkat berpotensi melemahkan kemampuan berpikir mendalam. Fenomena ini sejalan dengan kritik Nicholas Carr (2010) yang menyatakan bahwa era digital dapat mengurangi konsentrasi dan kedalaman refleksi intelektual. Jika orientasi akademik hanya berfokus pada capaian nilai, maka mahasiswa berisiko kehilangan identitasnya sebagai kelompok intelektual progresif.
Oleh karena itu, kampus dan organisasi kemahasiswaan memiliki peran strategis sebagai ruang transformasi intelektual. Kebijakan pendidikan modern bahkan menekankan pembelajaran berbasis pengalaman sosial dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari pembentukan kompetensi mahasiswa (UNESCO, 2015). Forum diskusi, kajian ilmiah, gerakan literasi, hingga kegiatan pengabdian harus dimaknai sebagai proses pembelajaran sosial yang membentuk kepemimpinan intelektual.
Sebagai mahasiswa, eksplorasi realitas berarti keberanian keluar dari zona nyaman. Mahasiswa perlu hadir di tengah masyarakat, mendengar suara akar rumput, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana pemberdayaan. Intelektualitas tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata yang berdampak sosial.
Pada akhirnya, mendorong eksplorasi realitas melalui transformasi intelektual yang visioner dan adaptif merupakan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai insan akademik. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh generasi muda yang mampu berpikir kritis, berempati sosial, dan berani mengambil peran dalam perubahan. Ketika mahasiswa mampu mentransformasikan intelektualitasnya menjadi gerakan yang adaptif dan visioner, maka kampus tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga manusia yang memahami realitas dan mengubahnya menjadi harapan bagi masyarakat.
Referensi :
Berger, P.L. & Luckmann, T., 1966. The Social Construction of Reality. New York: Anchor Books.
Carr, N., 2010. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W.W. Norton.
Castells, M., 2010. The Rise of the Network Society. Oxford: Blackwell.
Dewey, J., 1938. Experience and Education. New York: Macmillan.
Freire, P., 1970. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Gramsci, A., 1971. Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers.
Mezirow, J., 1991. Transformative Dimensions of Adult Learning. San Francisco: Jossey-Bass.
UNESCO, 2015. Rethinking Education: Towards a Global Common Good? Paris: UNESCO.
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Acara bedah buku mengenai Soe Hok Gie di Rumana Cafe pada Selasa malam (28/4/2026) menjadi momen refleksi tentang keberanian intelektual. Melalui karya legendarisnya, Catatan Seorang Demonstran, peserta diajak mengenang sosok aktivis angkatan '66 yang teguh membela kebenaran hingga akhir hayatnya di puncak Gunung Semeru.
Sikap kritis Gie tumbuh sejak masa kecilnya di Batavia. Ia dikenal sebagai anak yang gemar membaca dan berani mempertanyakan ketidakadilan, bahkan terhadap figur otoritas di sekolah. Baginya, kebenaran tidak boleh kalah oleh rasa takut, sebuah prinsip yang ia pegang teguh di tengah gejolak politik Demokrasi Terpimpin.
Saat menempuh pendidikan Sejarah di Universitas Indonesia, Gie menjadikan kampus sebagai kekuatan moral yang independen. Ia menolak tunduk pada kepentingan partai dan lebih memilih berjuang sendirian demi prinsipnya. Di sela aktivitas politik, ia mempelopori pembentukan Mapala untuk menemukan kejujuran di alam bebas, jauh dari kepalsuan ambisi kota.
Konsistensi Gie terbukti melalui keberaniannya mengkritik penyimpangan pada rezim Orde Lama maupun Orde Baru. Diskusi malam itu menitipkan pesan kuat bagi mahasiswa agar tidak menyerahkan hati nurani kepada kekuasaan, selaras dengan kutipan legendarisnya:
"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.“
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 3 BEM FKG UH
Pada Rabu, 29 April 2026, telah dilaksanakan kegiatan Readers Week sebagai wadah bagi para peminjam buku untuk membagikan pandangan, pemahaman, serta pesan yang diperoleh dari buku yang telah dibaca selama satu bulan terakhir. Pada Readers Week kali ini, terdapat tiga judul buku yang menjadi bahan diskusi, yaitu “Bicara Itu Ada Seninya”, “Laut Bercerita”, dan “Si Anak Spesial”. Ketiga buku tersebut menghadirkan tema yang berbeda, mulai dari keterampilan komunikasi, perjuangan kemanusiaan, hingga makna keluarga dan penerimaan diri.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari para pembaca. Pembaca buku Bicara Itu Ada Seninya menjelaskan pentingnya kemampuan berkomunikasi yang baik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan sosial, menyampaikan pendapat, serta memahami perasaan orang lain. Buku ini menekankan bahwa cara berbicara yang tepat dapat memberikan pengaruh besar terhadap lingkungan sekitar.
Selanjutnya, pembaca Laut Bercerita membahas isi novel yang menggambarkan perjuangan, kehilangan, dan pencarian keadilan pada masa kelam sejarah Indonesia. Buku karya Leila S. Chudori tersebut memperlihatkan sisi kemanusiaan dari para tokohnya serta menggambarkan kuatnya ikatan keluarga dan persahabatan di tengah situasi yang penuh tekanan. Melalui cerita tersebut, peserta diajak untuk lebih memahami nilai keberanian, kepedulian, dan pentingnya menjaga hak asasi manusia.
Sementara itu, pembaca Si Anak Spesial memaparkan kisah mengenai kehidupan anak dengan karakter dan kemampuan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Buku ini menyampaikan pesan tentang pentingnya dukungan keluarga, rasa percaya diri, serta penerimaan terhadap keunikan setiap individu. Selain itu, buku tersebut juga mengajarkan nilai empati dan menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta dan para pembaca. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk bertukar pendapat, menyampaikan pertanyaan, serta membagikan pandangan terkait pesan moral yang terkandung dalam ketiga buku tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan pengalaman yang dikaitkan dengan isi buku.
Kegiatan Readers Week kemudian ditutup oleh moderator. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya meningkatkan minat membaca, tetapi juga mampu memperluas wawasan, membangun rasa kekeluargaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui diskusi dan pertukaran perspektif.
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
BIDANG 1 BEM FKG UH
Pada hari Selasa, 28 April 2026, BEM FKG Universitas Hasanuddin sukses menyelenggarakan Kajian Rutin Islam yang bertempat di Masjid Al-Aqsho (depan FK Unhas). Kajian kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan tantangan generasi muda saat ini, yaitu "Identitas Muslim di Era Validasi".
Intisari dari kajian ini membahas mengenai pentingnya menjaga keteguhan jati diri seorang Muslim di tengah derasnya arus media sosial yang sering kali menuntut pengakuan atau validasi dari sesama manusia. Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa seorang Muslim harus mampu menjadikan akidah sebagai landasan utama dalam berpikir dan bertindak, sehingga tidak mudah goyah oleh tren duniawi yang bersifat semu. Peserta diajak untuk menyadari bahwa kebahagiaan dan ketenangan sejati hanya dapat diraih ketika kita melepaskan ketergantungan pada penilaian manusia dan kembali fokus mengejar rida Allah SWT. Dengan pemahaman identitas yang kuat, mahasiswa diharapkan tetap mampu tampil percaya diri sebagai Muslim yang progresif tanpa kehilangan prinsip-prinsip islami di era modern ini.
DIUNGGAH PADA 16 MEI 2026
EDISI MEI 2026
Sejak pandemi COVID-19, sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) menjadi solusi utama agar aktivitas kerja tetap berjalan. Banyak orang merasa WFH adalah pilihan yang nyaman karena lebih fleksibel dan tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai masalah yang membuat kebijakan ini mulai dipertanyakan, terutama jika diterapkan dalam jangka panjang.
Salah satu persoalan yang sering muncul adalah menurunnya produktivitas. Bekerja dari rumah memang terlihat santai, tetapi justru penuh dengan gangguan. Mulai dari urusan rumah tangga, suara lingkungan, hingga godaan untuk beristirahat lebih lama. Tidak semua orang memiliki ruang kerja yang nyaman di rumah, sehingga sulit untuk benar-benar fokus. Selain itu, tanpa pengawasan langsung dari atasan, sebagian pekerja menjadi kurang disiplin dalam mengatur waktu dan menyelesaikan pekerjaan. Studi oleh Bloom et al. (2015) menunjukkan bahwa meskipun WFH dapat meningkatkan produktivitas dalam kondisi tertentu, faktor lingkungan kerja tetap sangat menentukan hasilnya.
Di sisi lain, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi semakin kabur. Banyak pekerja merasa harus selalu “siap” meskipun sudah di luar jam kerja. Alih-alih memiliki keseimbangan hidup, mereka justru bekerja lebih lama dari biasanya. Kondisi ini bisa memicu kelelahan, stres, bahkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental. Menurut laporan World Health Organization (WHO, 2021), jam kerja yang panjang dan tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental secara signifikan.
Kurangnya interaksi sosial juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam lingkungan kerja, komunikasi langsung sering kali membantu mempercepat penyelesaian masalah dan memunculkan ide-ide baru. Namun, dalam sistem WFH, interaksi terbatas pada layar, yang terkadang terasa kaku dan kurang efektif. Hal ini dapat membuat hubungan antar rekan kerja menjadi kurang dekat dan kerja tim tidak berjalan maksimal. Penelitian dari Microsoft (2021) juga menunjukkan bahwa kerja jarak jauh dapat mengurangi kolaborasi spontan dalam tim.
Selain itu, dampak terhadap kesehatan fisik juga tidak bisa diabaikan. Terlalu lama duduk di depan layar tanpa aktivitas fisik dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti nyeri punggung, pegal pada leher, hingga kelelahan mata. Tanpa rutinitas yang jelas, banyak orang juga mulai mengabaikan pola makan dan olahraga, yang pada akhirnya memengaruhi kondisi kesehatan secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan temuan dari Mayo Clinic (2020) mengenai risiko gaya hidup sedentari.
Masalah lain yang sering terjadi adalah ketimpangan fasilitas. Tidak semua pekerja memiliki akses internet yang stabil atau perangkat kerja yang memadai. Lingkungan rumah yang ramai juga bisa menjadi hambatan. Kondisi ini membuat tidak semua orang bisa bekerja secara optimal, sehingga menimbulkan perbedaan hasil kerja. International Labour Organization (ILO, 2020) juga menyoroti adanya kesenjangan dalam penerapan kerja jarak jauh di berbagai kelompok pekerja.
Secara keseluruhan, work from home memang memberikan kemudahan dan fleksibilitas, tetapi bukan tanpa kekurangan. Berbagai tantangan seperti produktivitas yang menurun, gangguan kesehatan, hingga kurangnya interaksi sosial perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang lebih seimbang, seperti sistem kerja hybrid, agar manfaat WFH tetap bisa dirasakan tanpa mengorbankan kualitas kerja dan kesejahteraan pekerja.
Referensi :
Bloom N, Liang J, Roberts J, Ying ZJ. Does working from home work? Evidence from a Chinese experiment. Q J Econ. 2015;130(1):165–218.
International Labour Organization. Teleworking during the COVID-19 pandemic and beyond. Geneva: ILO; 2020.
Mayo Clinic. Sedentary behavior: how to reduce your risk . 2020 [cited 2026 May 1].
Microsoft. The effects of remote work on collaboration: Work Trend Index Report. 2021.
World Health Organization. Long working hours and health. Geneva: WHO; 2021
DIUNGGAH PADA 7 MEI 2026
EDISI MEI 2026